Sabtu, 04 Juni 2011

Yang Kaya Semakin Kaya, yang Miskin Semakin Miskin

Dan benarlah kata pepatah yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Pikiran itu tiba-tiba menyeruak dalam benak saya setelah entah kebetulan atau tidak atau pikiran saya yang sedang memang mengarah kesana saya selalu melihat tayangan yang menyentuh nurani. Setelah dalam perjalanan pulang dari Semarang ke Purbalingga yang memakan waktu lumayan lama(cukuplah untuk membuat *maaf* pantat saya papak *bahasa jawanya rata* naik bus ekonomi yang menurut saya sudah kurang laik jalan, tapi apa mau dikata kantong saya hanya mampu membayar layanan bus ekonomi dan tidak lebih. Naik bus ekonomi memang terkadang *coret* sering menyiksa berhubung saya sensitif terhadap rokok dan banyak penumpang yang merokok, tapi ada sisi lain yang saya suka yaitu adanya kejujuran adanya berbagai hal yang tidak mungkin saya dapatkan ketika saya naik bus patas yaitu seringkali ada pemandangan yang benar-benar menyentuh nurani saya. Seringkali melihat pengamen dan anak2 jalanan, juga seringkali *bukan maksud saya menguping* mendengar pandangan orang mengenai berbagai macam hal. Duduk di bus ekonomi juga bisa membuat saya mengamati berbagai fenomena sosial berbagai kalangan. Mengamati pergeseran norma yang berlaku(mungkin). Tayangan di tv pun mengilhami saya, mempengaruhi pemikiran saya. Terus terang berita mengenai anak jalanan di ibukota yang membuat saya rela mencari di mbah gugel mengenai anak jalanan di Indonesia. fenomena yang ditunjukkan oleh film “Alangkah Lucunya Negeri Ini) membuat saya semakin tertarik mencari data anak jalanan. Suatu berita kemarin mengenai target Indoesia bebas anak jalanan 2011(kalau tidak salah) oleh yang terhormat bapak menteri yang membuat saya tersenyum miris.
Back to the topic setelah bicara ngalor ngidul dari pepatah sampai naik bis ekonomi dan rencana bapak menteri yang terhormat mengenai penanganan anak jalanan. Berbagai tayangan televisi seperti yang baru saja saya lihat tentang impian anak kecil yang berasal dari keluarga yang bisa dikatakan sangat sederhana. Dia yang setiap hari harus mengasuh adik kecilnya, membawanya serta ketika bermain, dan adegan yang paling menyentuh saya adalah ketika dia makan dan menyuapi adiknya(sangat menyentuh). Dia yang sekarang masih SD yang untungnya sudah dibantu BOS(taukan program pemerintah ini?) tapi masih ada lagi permasalahan yaitu perlengkapan seperti seragam, sepatu dan buku-buku yang harus dibeli yang merupakan hal yang sangat berat bagi mereka (ini menyadarkan saya betapa beruntungnya saya yang masih bisa beli buku bejibun) . dia yang bercita-cita sekolah yang tinggi untuk merubah taraf ekonomi keluarganya menurut saya adalah suatu hal yang luar biasa namun untuk mewujudkannya membutuhkan usaha yang begitu keras karena meningat biaya pendidikan yang mahal di negeri ini. Berbagai dana yang seharusnya mengalir kembali ke rakyat malah mengalir ke kantong segelintir orang (Oh My God kejamnya mereka). Saya membayangkan bagaimana bila dia meminta keringanan ketika dia ada di perguruan tinggi *seperti yang baru saja saya alami*. Pengalaman saya bertemu birokrasi yang membuat saya trauma(mungkin) dan malas untuk kembali berurusan dengan yang namanya BIROKRASI, mereka yang menurut saya bermuka lebih dari satu yang di depan media berkata A dan dibelakang menyangkal semua dan pernah saya sendiri mengalami diperlakukan secara tidak hormat dan yang saya tangkap adalah bahwa yang berhak masuk adalah orang2 yang memiliki uang (secara implisit demikian).
Dari situ dapat saya hubungkan KATANYA untuk menaikkan taraf ekonomi kita harus meningkatkan PENDIDIKAN namun untuk mendapat PENDIDIKAN kita membutuhkan MATERI jadi intinya yang kaya saja yang bisa berpendidikan dan yang bisa meningkatkan taraf ekonomi mereka. Jadi salahkah saya jika saya mengambil kesimpulan bahwa yang KAYA akan SEMAKIN KAYA dan yang MISKIN semakin MISKIN. Dan yang paling saya sayangkan adalah ketika PENDIDIKAN hanyalah angan bagi golongan yang kurang mampu. Ketika semangat harus luntur, ketika masa depan tergadai oleh materi. Fakta bahwa jutaan rakyat Indonesia harus menyerah pada keadaan dan menganggap sekola adalah barang mewah. Bagi kita yang masih bisa bersekolah, haruslah kita bersyukur dengan cara serius belajar dan berusaha merubah dunia. Caranya? Terserah anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar