Kamis, 31 Mei 2012

Sedikit bercerita


Selamatkan Lingkunganmu, Selamatkan Kehidupanmu

Malik, kini bersimbah peluh di tengah teriknya pancaran sang mentari, salahkan keputusannya tadi yang memilih pergi berjalan kaki dibanding naik Alphard-nya. Baru kemarin dia selesai pindah kembali ke kota ini, jadi belum terbiasa dia dengan suhu yang memang tergolong panas itu. Rencananya kali ini adalah berjalan menyusuri kota tempat dia dibesarkan yang telah ditinggalkannya sejak sepuluh tahun lalu. Kini Malik bukan lagi bocah ingusan yang kerjanya mandi di kali bersama teman-temannya, dia seorang sarjana dan profesinya bisa dikategorikan lumayan. Berjalan menyusuri trotoar dan emperan toko mencari perlindungan. Pohon-pohon yang dulu rindang membayang memberi perlindungan kepada pengguna jalan, kini terganti bayang gedung-gedung yang tinggi menjulang. Kicau burung terganti deru mesin yang tak kunjung berhenti. Kini dunia serupa, siang saja, tak ada malamnya, tak ada gelap, tak ada bintang dan tak ada bulan. Membosankan.
Sebuah truk melintas dan pekatnya asap hitam mau tak mau memaksa Malik untuk menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Sambil menggerutu pelan dia melanjutkan langkahnya menyusuri kota.  Langkah membawanya ke kali. Teringat dulu, ketika dia dan kawan-kawannya bermain di kali. Sekarang? Jangan tanya. Warna air kali serupa dengan susu coklat yang diminum Edi, anak Malik. Air kali sudah tercemar limbah pabrik. Belum lagi sampah-sampah yang mengambang.
Pandangannya kini tertuju kepada seorang lelaki paruh baya yang sedang menjaring sampah di kali, sendirian. Rasa ingin tahunya menahannya untuk bertahan. Didekatinya lelaki itu. Pak Warsono namanya, si lelaki paruh baya itu. Hitam  kulitnya terbakar matahari. Pandangan heran ditunjukkannya pada Malik ketika dia datang, untuk apa orang berpakaian necis seperti itu datang ke bantaran kali ? mungkin itu pikirnya. Lalu pak Warsono mengajak Malik berteduh di gubuk kecil, sederhana tetapi bersih. Perbincangan mulai mengalir, pak Warsono ternyata merupakan sukarelawan, beliau mengabdikan hidupnya untuk kali ini. Setelah pertemuan itu, Malik selalu menyempatkan waktunya di akhir pekan untuk membantu pak Warsono.
Sebenarnya kali ini memiliki peranan yang sangat penting di kota ini, kali ini menampung air kiriman dari kota bagian atas. Warga di bantaran kali masih menggunakan air di kali ini untuk sumber mandi, mencuci dan sebagainya meskipun mereka tahu air ini sudah tercemar dan kotor oleh sampah. Selain sampah yang menumpuk, yang menjadi masalah adalah beralihfungsinya hutan di kota bagian atas menjadi pabrik yang menyebabkan air hujan langsung turun dan menyebabkan banjir di kota ini.
Mengatasi permasalahan sampah yang menumpuk di kali ini sangat sulit. Permasalahan ini memang cukup pelik, bayangkan kalau siklus ini hanya diputus dengan pengambilan sampah. Peran semua pihak memang sangat penting, dari pemerintah yang membuat peraturan mengenai pembuangan limbah pabrik dan sampah. Selama ini pengawasan pembuangan limbah belum ketat sehingga masih banyak orang yang membuang limbah di sungai. Pemerintah tidak bisa menjadi satu-satunya pihak yang disalahkan, lihat saja perilaku masyarakat yang dengan entengnya membuang sampah langsung ke kali. Bukan hanya warga sini. Sampah disini sebenarnya bukan hanya berasal dari warga sini, tapi banyak juga sampah kiriman dari warga kota bagian atas yang tak kalah banyaknya. Jadi tak mudah untuk memutus mata rantai pembuangan sampah di kali.
Malik berencana untuk membuat sebuah komunitas peduli kota untuk membantu pak Warsono. Dimulainya promosi lewat jejaring sosial mengenai rencana ini. Sudah satu bulan ini promosi dilakukan tetapi yang mendaftar hanya lima orang. Tetapi tak apa, tekad Malik sudah bulat. Hari ini Malik dan kelima orang yang mendaftar bertemu di bantaran kali. Inilah mereka, Andien, Bowo, Marina, Koko, dan Jefri. Andien, seorang wartawan di sebuah media yang cukup terkemuka. Bowo, seorang pelajar SMA yang turut merasa prihatin dengan keadaan kotanya. Koko dan Jefri merupakan aktivis lingkungan. Setelah bercengkerama sejenak, mereka langsung bekerja membantu pak Warsono mengambill sampah.
Setelah dua bulan mereka bekerja bersama. Terbesit ide untuk menggugah kesadaran masyarakat. Dimulai dari Andien yang menyoroti kurang tegasnya pemerintah mengenai ijin pembangunan pabrik dan pembuangan limbah pabrik. Lalu Koko dan Jefri yang  mengajak teman-teman aktivis lingkungan untuk bergabung, Bowo juga mengajak teman-teman di sekolahnya agar cinta lingkungan. Program kini juga bertambah dengan reboisasi di bantaran dan kota bagian atas. Rencana berikutnya adalah membuat rumah sampah berkoordinasi dengan warga sekitaran bantaran kali
Begitu artikel milik Andien dimuat muncul pro dan kontra menyoroti peraturan pemerintah dan pabrik yang membuang limbah ke kali. Setelahnya mulai banyak yang mendaftar menjadi anggota komunitas peduli kota dan berperan aktif dalam program-programnya. Ini merupakan langkah awal, setidaknya kini kali mulai bersih. Masih diperlukan langkah-langkah selanjutnya pikir Malik karena baginya lingkungan adalah kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar