Selamatkan Lingkunganmu, Selamatkan
Kehidupanmu
Malik,
kini bersimbah peluh di tengah teriknya pancaran sang mentari, salahkan
keputusannya tadi yang memilih pergi berjalan kaki dibanding naik Alphard-nya.
Baru kemarin dia selesai pindah kembali ke kota ini, jadi belum terbiasa dia
dengan suhu yang memang tergolong panas itu. Rencananya kali ini adalah
berjalan menyusuri kota tempat dia dibesarkan yang telah ditinggalkannya sejak
sepuluh tahun lalu. Kini Malik bukan lagi bocah ingusan yang kerjanya mandi di
kali bersama teman-temannya, dia seorang sarjana dan profesinya bisa
dikategorikan lumayan. Berjalan menyusuri trotoar dan emperan toko mencari
perlindungan. Pohon-pohon yang dulu rindang membayang memberi perlindungan
kepada pengguna jalan, kini terganti bayang gedung-gedung yang tinggi menjulang.
Kicau burung terganti deru mesin yang tak kunjung berhenti. Kini dunia serupa,
siang saja, tak ada malamnya, tak ada gelap, tak ada bintang dan tak ada bulan.
Membosankan.
Sebuah
truk melintas dan pekatnya asap hitam mau tak mau memaksa Malik untuk menutupi
hidungnya dengan sapu tangan. Sambil menggerutu pelan dia melanjutkan
langkahnya menyusuri kota. Langkah
membawanya ke kali. Teringat dulu, ketika dia dan kawan-kawannya bermain di
kali. Sekarang? Jangan tanya. Warna air kali serupa dengan susu coklat yang
diminum Edi, anak Malik. Air kali sudah tercemar limbah pabrik. Belum lagi
sampah-sampah yang mengambang.
Pandangannya
kini tertuju kepada seorang lelaki paruh baya yang sedang menjaring sampah di
kali, sendirian. Rasa ingin tahunya menahannya untuk bertahan. Didekatinya
lelaki itu. Pak Warsono namanya, si lelaki paruh baya itu. Hitam kulitnya terbakar matahari. Pandangan heran
ditunjukkannya pada Malik ketika dia datang, untuk apa orang berpakaian necis
seperti itu datang ke bantaran kali ? mungkin itu pikirnya. Lalu pak Warsono
mengajak Malik berteduh di gubuk kecil, sederhana tetapi bersih. Perbincangan
mulai mengalir, pak Warsono ternyata merupakan sukarelawan, beliau mengabdikan
hidupnya untuk kali ini. Setelah pertemuan itu, Malik selalu menyempatkan
waktunya di akhir pekan untuk membantu pak Warsono.
Sebenarnya
kali ini memiliki peranan yang sangat penting di kota ini, kali ini menampung
air kiriman dari kota bagian atas. Warga di bantaran kali masih menggunakan air
di kali ini untuk sumber mandi, mencuci dan sebagainya meskipun mereka tahu air
ini sudah tercemar dan kotor oleh sampah. Selain sampah yang menumpuk, yang
menjadi masalah adalah beralihfungsinya hutan di kota bagian atas menjadi
pabrik yang menyebabkan air hujan langsung turun dan menyebabkan banjir di kota
ini.
Mengatasi
permasalahan sampah yang menumpuk di kali ini sangat sulit. Permasalahan ini
memang cukup pelik, bayangkan kalau siklus ini hanya diputus dengan pengambilan
sampah. Peran semua pihak memang sangat penting, dari pemerintah yang membuat
peraturan mengenai pembuangan limbah pabrik dan sampah. Selama ini pengawasan
pembuangan limbah belum ketat sehingga masih banyak orang yang membuang limbah
di sungai. Pemerintah tidak bisa menjadi satu-satunya pihak yang disalahkan,
lihat saja perilaku masyarakat yang dengan entengnya membuang sampah langsung
ke kali. Bukan hanya warga sini. Sampah disini sebenarnya bukan hanya berasal
dari warga sini, tapi banyak juga sampah kiriman dari warga kota bagian atas
yang tak kalah banyaknya. Jadi tak mudah untuk memutus mata rantai pembuangan
sampah di kali.
Malik
berencana untuk membuat sebuah komunitas peduli kota untuk membantu pak
Warsono. Dimulainya promosi lewat jejaring sosial mengenai rencana ini. Sudah
satu bulan ini promosi dilakukan tetapi yang mendaftar hanya lima orang. Tetapi
tak apa, tekad Malik sudah bulat. Hari ini Malik dan kelima orang yang
mendaftar bertemu di bantaran kali. Inilah mereka, Andien, Bowo, Marina, Koko,
dan Jefri. Andien, seorang wartawan di sebuah media yang cukup terkemuka. Bowo,
seorang pelajar SMA yang turut merasa prihatin dengan keadaan kotanya. Koko dan
Jefri merupakan aktivis lingkungan. Setelah bercengkerama sejenak, mereka langsung
bekerja membantu pak Warsono mengambill sampah.
Setelah
dua bulan mereka bekerja bersama. Terbesit ide untuk menggugah kesadaran
masyarakat. Dimulai dari Andien yang menyoroti kurang tegasnya pemerintah
mengenai ijin pembangunan pabrik dan pembuangan limbah pabrik. Lalu Koko dan Jefri
yang mengajak teman-teman aktivis
lingkungan untuk bergabung, Bowo juga mengajak teman-teman di sekolahnya agar
cinta lingkungan. Program kini juga bertambah dengan reboisasi di bantaran dan
kota bagian atas. Rencana berikutnya adalah membuat rumah sampah berkoordinasi
dengan warga sekitaran bantaran kali
Begitu
artikel milik Andien dimuat muncul pro dan kontra menyoroti peraturan
pemerintah dan pabrik yang membuang limbah ke kali. Setelahnya mulai banyak
yang mendaftar menjadi anggota komunitas peduli kota dan berperan aktif dalam
program-programnya. Ini merupakan langkah awal, setidaknya kini kali mulai
bersih. Masih diperlukan langkah-langkah selanjutnya pikir Malik karena baginya
lingkungan adalah kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar